Sebuah Penelitian Virus Corona Gagal

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membuat daftar obat-obatan yang bisa dilakukan uji coba dalam pengobatan pasien virus Corona COVID-19, salah satunya adalah remdesivir.

Remdesivir disebut mempunyai potensi yang baik dalam pengobatan pasien virus Corona. Bahkan ini adalah salah satu obat yang diklaim Donald Trump 'menjanjikan'.

Sayangnya remdesivir dikabarkan tidak memberikan hasil baik. Sebanyak 237 pasien yang menjalani uji coba pengobatan remdesivir tak mendapat manfaat seperti yang selama ini diharapkan. Bahkan percobaan ini juga dihentikan lebih awal karena adanya efek samping.

The Guardian menyebutkan berita mengenai gagalnya uji coba obat ini telah diunggah pada database uji klinis WHO, tetapi kemudian dihapus. Seorang juru bicara WHO mengatakan dokumen tersebut diunggah terlalu dini karena faktor ketidaksengajaan.

"Draf dokumen diberikan oleh penulis WHO dan secara tidak sengaja di posting di situs web dan dihapus segera setelah kesalahan diketahui. Naskah sedang dalam peninjauan dan kami menunggu versi final sebelum WHO memberikan komentar," kata seorang juru bicara WHO, Tarik Jasarevic.

Remdesivir merupakan obat hasil racikan perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat (AS), Gilead Sciences.

Beberapa dokter di China juga akhirnya menghentikan uji coba remdesivir pada pasien virus Corona bergejala berat. Namun pihak Gilead tetap mengklaim bahwa obat buatannya masih bisa berguna pada pasien yang memiliki gejala rendah.

Dalam percobaan tersebut, 237 pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu 158 orang diberikan remdesivir, sementara 79 lainnya hanya mendapatkan perawatan standar. Hasilnya tidak ada perbedaan antara kedua kelompok pasien tersebut dalam waktu pemulihan.

"Dalam penelitian ini pada pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 bergejala parah dihentikan sebelum waktunya, remdesivir tidak dikaitkan dengan manfaat klinis atau virologi," tulis laporan tersebut.

"Remdesivir dihentikan lebih awal pada 18 (11,6 persen) pasien karena efek samping, dibandingkan dengan 4 (5,1 persen) pada kelompok kontrol," lanjutnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel