Muhammad Nazaruddin

Kasus-kasus korupsi yang menyeret nama mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, membawa efek besar bagi partai bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Alasan pemecatan Nazaruddin juga dinilai kurang tepat. Penilaian itu disampaikan Lembaga Survei Indonesia.

"Kasus Nazaruddin efeknya sangat besar. Karena bukan individu, tapi juga Demokrat sebagai institusi," kata peneliti utama LSI, Syaiful Mujani, dalam keterangan pers di kantornya di Jakarta Pusat, Minggu 29 Mei 2011.

Menurut Syaiful, survei LSI ini digelar dari 10 hingga 25 Mei 2011. Atau saat publik tengah digonjang-ganjing dua kasus yang menyebut nama Nazaruddin. Yakni, kasus dugaan suap Wisma Atlet Sea Games Palembang, dan kasus pemberian uang kepada Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Janedjri M Gaffar.

Nazaruddin sudah membantah keras dua kasus itu. "Tapi klimaksnya (kasus Nazaruddin) kan mulai sekarang, setelah survei usai," ujar dia. Jumlah survei yang dijadikan sample ini sebanyak 1220 responden, dengan margin error plus minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Bagi Syaiful, alasan pemecatan Nazaruddin juga dinilai kurang tepat. "Nazaruddin diberhentikan karena membebani dan memperburuk citra partai. Itu terlalu ambil untung," kata dia.

Syaiful menyarankan, sebaiknya alasan pemecatan Nazaruddin karena konsistensi Demokrat soal penegakan hukum. "Karena kadernya diduga bermasalah, mestinya itu yang disampaikan sebagai alasan," kata dia.

Saat ini, Nazaruddin sudah berada di Singapura untuk keperluan berobat. Nazaruddin terbang ke Singapura bersamaan dengan malam pemecatan dirinya atau satu hari sebelum dicegah ke luar negeri. "Kebetulan, nanti akan ada survei lagi. Apakah benar ada Nazar Efek?" kata Syaiful. Demikian catatan online Mbuh yang berjudul Muhammad Nazaruddin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel